Keterampilan Dasar Mengajar 1
Tugas 7
Makalah
Strategi Pembelajaran di SD
" Keterampilan Dasar Mengajar "
Disusun Oleh :
Puja Oksa Maharani
Nim/Bp : 1820089/2018
PGSD 4.4
Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020
A. Pengertian keterampilan dasar mengajar
Istilah mengajar
sering digandengkan dengan istilah belajar, atau sebaliknya belajar selalu
digandengkan dengan mengajar, sehingga sudah menjadi satu kalimat majemuk
“kegiatan belajar-mengajar (KBM), proses belajar mengajar (PBM), dan untuk
menyebut kedua istilah tersebut, saat ini disatukan menjadi “pembelajaran”.
Dengan demikian jika disebut “pembelajaran” itu berarti menunjukkan proses
kegiatan yang melibatkan dua unsur: 1) belajar; 2) mengajar. Mengajar merupakan
kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh guru, dosen, instruktur, atau
widyaiswara dalam mengatur dan mengelola lingkungan belajar untuk mendorong
aktivitas belajar siswa/pebelajar. Sedangkan belajar merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh siswa/pebelajar merespon lingkungan belajar untuk mencapai
tujuan yang diharapkan. Fokus pembahasan dalam tulisan ini diarahkan pada unsur
mengajar, kalaupun ada unsur belajar yang dibahas semata dimaksudkan untuk
lebih mempertegas dan memperjelas pembahasan mengajar itu sendiri. Mengajar (teaching)
memiliki banyak pengertian, mulai dari pengertian yang sudah lama (tradisional)
sampai pada pengertian yang terbaru (kontemporer). Secara deskriptif mengajar
diartikan sebagai proses menyampaikan informasi atau pengetahuan dari guru,
dosen, instruktur, atau widyaiswara kepada
siswa/pebelajar. Merujuk pada pengertian mengajar tersebut, inti dari
mengajar adalah proses menyampaikan (transfer), atau memindahkan. Memang
dalam mengajar ada unsur menyampaikan
atau transfer dari guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara kepada siswa/pebelajar. Akan tetapi
pengertian transfer atau memindahkan
tersebut bukan seperti seseorang memindahkan air minum dari satu cangkir ke
cangkir yang lain. Air yang dipindahkan dari satu cangkir ke cangkir yang lain, volumenya akan tetap sama bahkan
karena mungkin terjadi proses penguapan, maka volume air yang dipindahkan itu
akan semakin berkurang (menyusut) dari keadaan sebelumnya. Oleh karena itu
mengajar yang diartikan proses menyampaikan (transfer), maknanya adalah
“menyebarluaskan, memperkaya” pengalaman belajar siswa sehingga dapat
mengembangkan potensi siswa/pebelajar secara maksimal. Makna lain dari
pengertian mengajar sebagai proses menyampaikan, selain upaya menyebarluaskan
dan memperkaya pengalaman belajar siswa/pebelajar, ialah “menanamkan”
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Menanam satu pohon mangga, maka kemudian
akan menghasilkan beberapa cabang dan ranting dan dari situlah keluar mangga yang banyak. Dari
ilustrasi tersebut bahwa mengajar sebagai
proses “transfer” adalah menanamkan pengetahuan, sikap dan keterampilan,
sehingga potensi berfikir (pengetahuan), sikap, keterampilan, kebiasaan dan
kecakapan yang dimiliki siswa/pebelajar akan berkembang secara optimal
(teaching is imparting knowledge or skill) Smith 1987. Perkembangan berikutnya
pengertian mengajar, yang kini banyak dianut yaitu “suatu proses mengatur atau
mengelola lingkungan belajar agar berinteraksi
dengan siswa/pebelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Inti
pengertian mengajar (tradisional maupun
kontemporer), keduanya sama yaitu untuk merubah perilaku siswa/pebelajar, yakni
dimiliki dan terkembangkannya pengetahuan/wawasan berfikir, sikap, kebiasaan,
dan keterampilan atau kecakapan, atau
yang lebih populer perubahan berkenaan dengan: pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Perbedaannya terletak pada proses upaya merubah tingkah laku
tersebut. Pandangan lama melalui proses menyampaikan (transfer) yang
kadang-kadang sering diartikan sempit, hanya terbatas sebagai proses menyampaikan
atau memindahkan pengetahuan dan keterampilan saja; sedangkan pada pengertian yang baru, bahwa perubahan
perilaku tersebut dilakukan dengan cara “mengelola lingkungan pembelajaran agar
berinteraksi dengan siswa/pebelajar”. Dalam
mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh guru, dosen,
instruktur, atau widyaiswara, yaitu: 1) menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach), 2)
menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya
(haw to teach). Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek nomor 2 yaitu cara membelajarkan
siswa. Keterampilan dasar mengajar
mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh setiap guru, dosen, instruktur, atau
widyaiswara, kerena dengan keterampilan dasar mengajar bahwa mengajar bukan
sekedar proses menyampaikan pengetahuan saja, akan tetapi menyangkut aspek yang
lebih luas seperti: pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan, dan
nilai-nilai. Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan
atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviours)
yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara agar dapat melaksanakan
tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Glicman, 1991).
Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa kemamapuan
atau keterampilan yang bersifat mendasar dan melekat harus dimiliki dan
diaktualisasikan oleh setiap guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara dalam melaksanakan
tugas mengajarnya.
B
B.Jenis-jenis keterampilan dasar mengajar
Allen
dan Ryan (1987) mengemukakan jenis-jenis keterampilan dasar mengajar adalah
sebagai berikut:
1. Keterampilan
membuka dan menutup (set of induction and closure) Kegiatan membuka dan menutup
pembelajaran adalah dua kegiatan yang berbeda, pertama kegiatan membuka dan
kedua kegiatan menutup pembelajaran. Perbedaan tersebut bisa dilihat dari
beberapa aspek, seperti dari segi pengertian, fungsi, maupun penerapannya. Pertama
kegiatan membuka pembelajaran (set induction); adalah usaha yang dilakukan oleh
guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara pada saat mengawali pembelajaran
(kegiatan pembuka) untuk menciptakan prakondisi belajar bagi siswa agar mental,
perhatian dan motivasinya terpusat dan bangkit untuk melakukan aktivitas
belajar yang akan diikutinya. Adapun tujuan membuka pembelajaran antara lain
yaitu: 1) menarik perhatian siswa; b) menumbuhkan motivasi belajara siswa; 3)
memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan.Kedua
kegiatan menutup pembelajaran (closure) yaitu kegiatan yang dilakukan guru,
dosen, instruktur, atau widyaiswara untuk mengakhiri pembelajaran. Tujuan dari
kegiatan menutup pembelajaran yaitu untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai
pengalaman belajar (hasil belajar) yang telah dikuasainya. Kegiatan-kegiatan
dalam menutup pembelajaran misalnya: merangkum atau membuat garis besar
permasalahan yang dibahas; mengonsolidasikan siswa terhadap hal-hal yang
dianggap pokok; mengorganisasikan kegiatan yang telah dilakukan untuk membuat pemahaman
baru; memberikan tindak lanjut, dll.
2. Keterampilan
memberikan variasi stimulus (stimulus variation)
Variasi stimulus adalah memberikan respon yang
bervariasi (berbeda atau berganti-ganti). Melalui variasi stimulus ini
dimaksudkan untuk menjaga agar suasana pembelajaran selalu menarik, tidak
membosankan, sehingga siswa selalu menunjukkan sikap antusias, bergairah, penuh
perhatian, dan selalu berpartisipasi aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada
garis besarnya ada tiga jenis (bentuk) variasi stimulus yang dapat dilakukan
oleh guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara, yaitu: 1) variasi dalam pola
interaksi pembelajaran; 2) variasi penggunaan media/alat bantu pembelajaran;
dan 3) variasi penggunaan metode serta gaya mengajar.
3. Keterampilan
bertanya (question)
Bertanya merupakan
suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi
pembelajaran. Bertanya adalah penyampaian atau mengungkapkan pertanyaan sebagai
stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban (respon) dari siswa terhadap
yang ditanyakan. Dengan bertanya dapat meningkatkan aktivitas belajar seperti:
meningkatkan partisipasi siswa, kemampuan berfikir, membangkiktkan rasa ingin
tahu, memusatkan perhatian siswa, dll.Agar bertanya dapat meningkatkan aktivitas
belajar, maka dalam menyampaikan pertanyaan antara lain mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut: antusiasme dan kehangatan, pemberian waktu secukupnya,
pola lalulintas pertanyaan, menghindari pertanyaan ganda, pertanyaan secara berjenjang,
dan menggunakan pertanyaan pelacak.
4. Keterampilan
menggunakan isyarat (silence and non verbal clue)
Pembelajaran pada
dasarnya adalah suatu proses komunikasi, dalam komunikasi terdapat beberapa
jenis atau bentuk komunikasi yaitu: lisan, tulisan dan isyarat. Fokus
keterampilan menggunakan isyarat, merupakan penerapan dari bentuk atau jenis
komunikasi selain lisan dan tulisan. Tujuan dari penggunaan bahasa isyarat ini
terutama adalah untuk memusatkan perhatian dan motivasi belajar siswa. Untuk
memelihara perhatian dan motivasi belajar siswa, dalam kondisi tertentu kadang-kadang
tidak bisa dengan cara lisan atau tulisan. Oleh karena itu perlu keterampilan
lain, yaitu melalui keterampilan menggunakan bahasa isyarat.
5. Keterampilan
memberikan ilustrasi/contoh (illustration and use of example)
Tidak semua materi
atau bahan ajar yang disajikan kepada siswa, baik melalui penjelasan lisan,
melalui bahasa tulisan atau isyarat dapat dengan cepat dan mudah dipahami dan
dikuasai oleh siswa. Dengan demikian untuk mempermudah siswa menangkap,
memahami dan menguasai materi ajar yang diberikan perlu bantuan atau
menggunakan contoh-contoh atau ilustrasi yang dapat memperjelas terhadap bahan
ajar atau penjelasan yang disampaikan. Penggunaan contoh atau ilustrasi dalam pembelajaran
harus disesuaikan dengan karakteristik materi dan tingkat pengalaman siswa itu
sendiri.
Contoh dan
ilustrasi yang diberikan selalu diorientasikan untuk menjembatani siswa dalam
memahami terhadap materi yang sedang dipelajari, atau tercapainya kompetensi
pembelajaran.
6. Keterampilan
memberikan balikan dan penguatan (feed back and reinforcement)
Pemberian
penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respon yang merupakan bagian
dari modifikasi tingkah laku guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara terhadap
tingkah laku siswa. Tujuanya yaitu untuk memberikan informasi atau umpan balik
(feed back) sebagai suatu dorongan atau koreksi bagi siswa atas perbuatan atau
responsnya. Pada garis besarnya terdapat dua bentuk atau teknik pemberian
penguatan, yaitu:
1) penguatan
verbal; yaitu bentuk penguatan melalui kata-kata (lisan), seperti bagus,
cantik, tampan, dll; 2) penguatan
nonverbal; yaitu pemberian penguatan dengan isyarat, seperti
dengan anggukan
kepala, gelengan kepala, mengacungkan jempol, dll
C. Prinsip-prinsip
pelaksanaan keterampilan dasar mengajar
1. Kesesuaian (relevant)
Kesesuaian
atau relevan yaitu dalam memilih dan menentukan unsur-unsur jenis keterampilan dasar mengajar yang akan
dilaksanakan haru memperhatikan dan disesuaikan dengan seluruh komponen
pembelajaran. Penyesuaian ini sangat penting, agar dalam menerapkan setiap
unsur pembelajaran tersebut dapat lebih meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.
Misalnya ketika menerapkan keterampilan memberikan stimulus melalui penggunaan multi media dan
metode yang bervariasi, hendaknya
penggunaan tersebut disesuaikan dengan tujuan (kompetensi) pembelajaran yang ingin dicapai, sesuain
dengan kondisi siswa, materi pembelajaran, dan unsur-unsur pembelajaran lainnya
baiki intern maupun ekstern.
2. Kreativitas dan inovatif
Kreativitas
dan inovatif dalam meggunakan unsur-unsur keteranpiloan dasar mengajar sangat
diperlukan agar suasan pembelajaran selalu menarik dan menyenagkan bagi siswa.
Kreativitas berari bahwa unsur-unsur keterampilan dasar mengajar yang digunakan
dikemas lebih menarik, dan biasanya melalui kreativitas akan muncul hal-hal
atau kegiatan yang baru dan berbeda dengan
cara yang dilakukan sebelumnya (inovatif). Misalnya ketika menerapkan keterampilan
membuka pembelajaran, kegiatan yang dilakukan oleh guru,dosen, instruktur, atau
widyaiswara tidak selalu harus dengan cara memberikan free test, akan tetapi
secara kreatif dan inovatif bisa dengan cara lain, misalnya memberikan ilustrasi,
memberikan kondisi yang mempertentangkan, dll.
3. Ketepatan (akurasi)
Penggunaan
setiap unsur keterampilan dasar mengajar dimaksudkan agar proses pembelajaran
bisa berjalan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu penggunaan
unsur-unsur keterampilan dasar mengajar harus memperhatikan aspek ketepatan
atau akurasi, sehingga dapat mencapai sasaran pembelajaran yang diharapkan.
Misalnya ketika menggunakan keterampilan dasar bertanya, jika melalui
pertanyaan yang diajukan oleh guru, dosen, instruktur, atau widyaiswara,
ternyata tidak memancing respon siswa berarti mungkin cara atau materi
pertanyaan yang diajukan kurang tepat sehingga perlu diganti dengan cara bertanya yang lain.
4. Kebermanfaatan Seperti halnya dengan prinsip-prinsip
keterampilan dasar mengajar yang telah dibahas sebelumbya, yang tidak kalah
pentingnya bahwa unsur-unsur keterampilan
dasar mengajar yang diterapkan harus memiliki nilai manfaat atau kegunaan
terhadap penegembangan potensi siswa. Pembelajaran adalah proses merubah
perilaku siswa meliputi pengetahun, sikap maupun keterampilan. Dengan demikian
penggunaan keterampilan dasar mengajar harus memiliki nilai atau manfaat untuk
lebih meningkatkan kualitas pembelajaran.
5. Membangkitkan perhatian dan motivasi Perhatian
dan motivasi termasuk kedalam prinsip pembelajaran, sebagai suatu prinsip
artinya perhatian dan motivasi termasuk untuk yang sangat menentukan terhadap
kualitas pembelajaran. Mengingat pentingnya perhatian dan motivasi, maka penerapan unsur-unsur atau
aspek pembelajaran harus membangkitkan
perhatian dan motivasi siswa. Sehingga selama proses pembelajaran berlangsung
perhatian dan motivasi siswa selalu terjaga dan tercurah pada kegiatan
pembelajaran yang dilakukan.
6. Menyenangkan Suasana pembelajaran yang
menyenangkan (joyfull learning) termasuk salah
satu unsur pembelajaran yang harus selalu diciptakan oleh guru, dosen, instruktur,
atau widyaiswara dalam membimbing proses pembelajaran. Melalui pembelajaran
yang menyenangkan siswa akan merasa betah, semangat, bahkan mungkin siswa akan
merasa bebas untuk melakukan aktivitas
pembelajaran sesuai dengan potensi dan bakat yang dimilikinya. Oleh karena itu penggunaan unsur-unsur keterampilan
dasar mengajar harus dapat menciptakan
suasana pembelajaran yang akrab dan menyenangkan bagi siswa.
DAFTAR RUJUKAN
Peraturan
pemerintah no. 19 tahun 2005. Standar
Nasional Pendidikan. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional
Departemen
Pendidikan Nasional.2002. Pendekatan
Kontekstual. Jakarta
Darmo Mulyoatmodjo.
1980.Proyek Pengembangan Pendidikan Guru.Micro Teaching.Jakarta
Dunkin. J.
Michael. 1987. Teaching and Teacher
Education. New York. Pergoman Press.
Bagus sekali artikelnya min
BalasHapusSumbernya juga jelas
BalasHapusSangat bagus
BalasHapus